Yin Maka Yang

Kata Yinyang, ada orang-orang berbeda sifat yang ditakdirkan untuk hidup bersama karena mereka saling melengkapi.

Kataku, kau yang pujangga tidak mungkin tahan bersebelahan lama-lama dengan seorang gila matematika. Kataku, kau harus mencari lawan main dari liga yang sama. Warna yang sejenis.

Tidak, Yinyang memaksa.

Rumah tangga itu seperti bahtera, tidak bisa berat ke salah satu sisi kalau tak mau tenggelam. Harus seimbang kiri-kanan.

Terserahmulah.

Lalu hari itu aku berjalan menyusuri taman bintang untuk bertemu kekasih pujaan.

Kami sudah lama saling mengedipi satu sama lain. Jika tidak terpisah jutaan kilometer jauhnya, mungkin kami sudah menjadi sepasang kekasih yang dielu dan irikan teman sekantorku. Dia mengeluarkan sinar di galaksi lain, dan aku terperangkap di bumi. Namanya bintang.

Bukan, bukan kejora yang dinikmati banyak orang. Ini bintang pribadiku sendiri.

Teori Yinyang jelas salah.

Aku dan dia sama-sama cerah berpendar. Reaksi helium dan hidrogen di permukannya memancar, begitu pula aku dengan auraku yang menurut mereka membuat segan.

Aku dan dia sama-sama menjadi pusat gravitasi. Kami independen dan tidak bergantung pada sebuah inti, planet-planet justru berputar mengitari kami.

Aku dan dia sama-sama rasional berjadwal. Dia hanya hadir setiap musim dingin di langit Utara. Aku hanya ada di kursi empuk bermeja besar itu pada 9-17. Selebihnya, aku hilang. Juga dia, raib ditelan musim panas.

Lihat itu, Yinyang. Aku dan bintang adalah kembar, adalah sama. Kami tidak beda.

Kemudian kulihat mereka.

Sepasang remaja, sang gadis dengan gitar terpasang di punggung dan kekasihnya yang berkacamata setebal botol susu.

Yang laki-laki berkemeja membosankan, memohon agar pujaannya menyanyi. Lagu favoritku, pintanya. Lalu permohonan dikabulkan. Si pria bersenandung mengiringi dengan nada lebih sumbang dari klakson metromini, namun wajah lebih bahagia dari supir yang mendapat pemasukan berlimpah. Dia tak perlu mengerti kunci G, Am, atau C, dia hanya tahu hatinya berlompatan melihat gadisnya bernyanyi dengan senyum termanis di dunia.

Selesai.

Ini tengah malam. Ayo pulang, katanya. Bergandengan tangan, dua dunia berbeda, bergerak ke arah selatan.

Sejenak hitam bertemu putih. Sepercik warna abu hadir mengganggu.

Aku berpikir lagi.

Mereka tak mungkin sama. Jengkal manapun dari isi otak mereka pasti beda bentuk dan dimensi. Kon, tras. Kontras.

Itu yang kubilang dari tadi, sambar Yinyang.

Yang berbeda memang harus bersatu. Agar harmonis, agar seimbang. Kalian yang sama harus berpisah, ibarat enzim kalian bukan jodoh dari yang lain. Berpisahlah.

Kuberitahu satu hal, Yinyang. Kecocokan itu manusia yang tentukan. Yang sama bisa klop, yang beda pun bisa pas.

Kau boleh pakai baju biru di atas celana biru, tapi baju biru di atas celana hitam pun tak kalah sedap dipandang.

Sama, beda, kalau cinta, maka apa daya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s