Seri Surat Cinta #48 — Untuk Yang Terindah

Kududuk termenung pagi ini membayangkan wajahmu, aku yakin wajahmu indah bak seorang malaikat yang terkena sinar matahari pagi. Tak sabar rasanya aku untuk bertemu denganmu. Namun tak tau kapan. Segera.

Dinginnya angin malam tadi membuatku berpikir untuk menuliskan sesuatu untukmu pagi ini, sesuatu yang mungkin kau baca, mungkin juga tidak, tergantung beberapa lama lagi kita akan bertemu.

Memang, aku orang yang lumayan kaku saat berbicara cinta. Namun pagi ini aku kukuhkan niatku untuk menuliskan catatan cinta pertama untukmu, kekasih hatiku. Untukmu, seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupku. Untukmu, seseorang yang akan menemani masa tuaku kelak dikemudian hari, seseorang yang akan menjadi teman bercerita, gelak-tawa, suka-duka sampai ajal memisahkan kita.

Dinginnya udara New York pagi ini cukup membuatku berpikir dua kali untuk lompat dari tempat tidur. Aku berjalan pagi ini, bersama hujan rintik-rintik pertanda musim semi telah tiba di kota besar ini. Aku berjalan, terus berjalan.

Tak jarang aku berpapasan dengan sepasang muda mudi yang saling bergurau mesra, memamerkan cinta mereka pada semesta. Ada rasa iri dan cemburu saat melihat mereka, bisa bercinta dan bercanda gurau di jalanan musim semi hutan beton, kota besar ini. Bak tak ada waktu dan jarak yang memisahkan mereka.

Kutuliskan surat ini hanya untukmu, di secarik kertas yang malam tadi baru aku dapatkan dari toko cokelat Serendipity. Sengaja aku berjalan-jalan dulu untuk mencari inspirasi kata-kata cintaku untukmu, namun sayang aku tidak kunjung mendapatkan apa yang aku cari.

Dan disini, aku terduduk di batuan keras dekat the Pond, tempat muda mudi New York bermain dan bercanda di pagi minggu. Aku masih duduk disini, mencari apa yang akan aku ucapkan kepadamu. Namun sayang, tak ada kata-kata indah yang aku dapatkan disini. Bibirku bak terkunci, otakku bak keruh tak tau apa yang ingin aku tuliskan.

Bidadariku, aku putuskan untuk mengubur surat ini bersama dengan botol bening yang aku dapatkan saat berjalan tadi pagi. Aku percaya, aku akan mampu melanjutkan surat ini bersamamu nanti. Bersamamu setelah kita mengali kembali surat ini bersama, dan melanjutkan cerita cinta kita berdua, sampai tua.  Till I meet you.

(Siapa sangga Angga Dwi Martha bisa romantis seperti ini? Ditulis beberapa bulan lalu di Central Park, New York.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s