A Theorem on Kindness (Formula Kebaikan)

[Read on Unmasked Poetry Open Mic on April 25th, 2015.]

Aku tidak pernah punya masalah dengan klaim bahwa altruisme itu hanya kebohongan publik. Sebagai utilitarian, menurutku selama ada dampak positif terukur (DPT) dari berbuat baik, menyusulnya rasa kelegaan atau kebanggaan terhadap diri sendiri yang mengangkat otot bibir untuk tersenyum tidak serta merta menegasikan DPT tersebut.
If anything, it actually adds up to it.

:) + DPT > 0

Maka dari itu, pada fase awal dari tumbuh dewasa, aku senang berbuat baik. Aku mengenakan lencana ‘orang baik’ dengan dada terbusung: I smiled to strangers, held them doors, had good faith to those who actually tried to trick me—the list goes on. Tiga teman perempuan terdekatku bahkan sempat mengeluh, “I don’t understand why you bother doing that.” atau malah memanfaatkannya, “You’re the nice one among us. Deal with that man,” sembari mendorongku untuk berbicara dengan petugas menyebalkan. Aku pernah sangat menyukai peran itu, benar.

Itu berlangsung cukup lama, sampai kemudian muncul urgensi baru tentang ‘berbuat baik’ yang mengusik benakku: bahwa ia tidak efisien. Kebaikan mengharuskanmu memutar demi mengantar teman (i.e. lebih banyak bensin yang terbakar secara tidak perlu), bangun lebih lama untuk mendengarkan keluhan sepele dari seseorang yang namanya bahkan tak kau kenal (i.e. mengurangi kesempatan langka untuk istirahat ekstra), dan membayar berbagai opportunity cost, atau biaya kesempatan (BK), lainnya—BK yang tadinya bahkan tak pernah kuanggap ada. Entah sejak kapan, tapi aku menjadi manusia yang berhitung—menganggap bahwa nett DPT hanya dapat diperoleh setelah gross DPT sudah dikurangi dengan BK. Variabel baru ini mengubah persamaanku dengan cukup signifikan.

nDPT = gDPT – BK

Mungkin karena terlalu sibuk berhitung, aku tidak sempat benar-benar memikirkan apakah aku menyukai peran baru ini. Kalimat-kalimat positifku kini berkenalan dengan kata ‘tidak’, wajahku kurang dilatih untuk tersenyum, dan otakku sulit memproses apapun yang tidak berhubungan langsung dengan kepentinganku. Aku secara sukarela mereduksi kebahagiaan sebagai apa yang kuperoleh—sebagai banyaknya waktu yang kugunakan untuk bekerja, beristirahat, dan bersosialisasi. Di luar itu, semuanya hanya kebisingan yang tidak relevan.

Di luar perkiraanku, ‘tidak berbuat baik’ justru melelahkan.

It drained energy out of me—it made me like myself a lot less.
It also stole away my sense of purpose.

Belakangan, aku baru benar-benar sadar bahwa kalkulasi ini menjadi sedikit lebih rumit karena angka barusan masih harus dikurangi dan/atau ditambahkan dengan dampak positif/negatif tak terukur (DPTT/DNTT). Karena tidak terukur, secara alamiah kamu hanya bisa mengandalkan naluri untuk benar-benar memahami variabel-variabel ini. Bagiku sendiri, DPTT dari berbuat baik adalah semacam sumur infinit yang menyediakan energi dan optimisme jangka panjang. Aku belum benar-benar bisa memecahkannya ke dalam perhitungan ilmiah, tapi kadang sains hanya membutuhkan afirmasi alam sadar.

nDPT = gDPT + DPTT – (BK + DNTT), nDPT > 0

Begitulah teorema yang ingin aku ajukan. Not sure if I’m making a good case about why kindness is good—tentunya ada banyak tulisan lain yang lebih masuk akal. Salah satunya, artikel Opinionator New York Times ini yang mengatakan bahwa evolusi telah mengantarkan kita sebagai ‘powerfully social species’—bahwa kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup ternyata bukan hanya berada pada tataran individu, tapi juga relasinya dengan individu lain.

I now know better that kindness isn’t weakness.

P. S. Perjalanan emosional ini juga sempat membawaku ke perasaan ‘benci’, tapi semoga kita tak perlu sampai membahas itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s