Garis Besar Haluan Menjadi Orang Indonesia (GBHMOI)

[Read on Unmasked Spoken Word Open Mic to celebrate Indonesia’s Independence Day on August 18, 2018.]

Satu. Harus punya keluarga, lengkap dengan kartunya; jika tidak, maka tidak cukup manusia untuk diberi layanan kesehatan oleh negara. And not always the kind you get to choose either—it’s the one you get when you were born, including those who disown you because you’re a man who wears makeup or a woman in love with another woman.

Dua. Harus beragama, salah satu dari enam agama yang sudah diseleksi ketat oleh negara, karena hanya enam agama itulah yang patut dipeluk oleh manusia modern. Agama lainnya ketinggalan zaman, sedangkan tidak beragama terlalu modern, atau mungkin terlalu kebarat-baratan. Kita cukup modern di tengah-tengah. Tidak kurang, tidak lebih. Ooh ooh, without a god of your choice, you also couldn’t have an ID card which is, you know, important—without which you couldn’t get a bank account or have a life in general.

Wait, have I been code switching too much? Tiga, harus berbahasa Indonesia at all times—uh oh, did I do it again? Kalau belajar bahasa ke-2, 3, dan seterusnya berarti tidak menghargai bahasa nan indah pemersatu bangsa. Karena tentu otak kita terlalu kerdil untuk menyimpan kosa kata beberapa bahasa sekaligus—which I find weird, you know, considering how every Indonesian is a natural bilingual with their bahasa daerah and bahasa Indonesia—dan karena hati kita terlalu sempit untuk mencintai lebih dari satu—which I also find weird, considering how the same people who give these comments also have up to four wives.

Empat. Tidak boleh kapitalis, tapi juga tidak boleh terlalu kiri. Kalau pro pasar, bagaimana nasib petani yang harus dilindungi? Tapi lalu kalau bekamerad dalam perburuhan, malah ditembak mati atau dibuang ke pengasingan—tanpa pengadilan.

Lima–terakhir, harus tinggal di Indonesia. Kerja di PBB mewakili Indonesia tidak membuktikan kamu cinta negara, begitu pula di Silicon Valley, atau bahkan terbang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional sama NASA. Daripada capek-capek begitu, lebih baik pulang, menikah, pakai jilbab, dan punya anak. Udah punya anak? Waktunya anak kedua.

PENUTUP

GBHMOI ini sifatnya tidak permanen—tapi dibutuhkan kepermanenan hati dan aspirasi untuk mengubahnya. Mungkin tidak sekaligus, tapi lewat satu konversasi lintas ideologi ke obrolan lain. Karena merdeka tidak cukup di badan, tapi lebih penting di pikiran.

Gedung Filateli,
18 Agustus 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s